Sabtu, 17 Januari 2015

Asyifa Kusuma Triandini (1801388185)

   


         Biopori merupakan lubang resapan air yang dimana memiliki kedalaman kurang lebih 1 meter dengan menggunakan pipa yang memiliki diameter 10-30 cm dan terdapat sampah organik, kompos, atau serabut di dalam pipa sebagai pengurai untuk memancing hewan tanah yang berguna menyuburkan dan mengurai tanah. 

Manfaat biopori :


  1. Dapat menyuburkan tanah.
  2. Dapat meminimalisir atau bahkan menghilangkan banjir.
  3. Menambah volume air tanah.
  4. Meningkatkan peran dan aktifitas fauna tanah.
  5. Mencegah erosi tanah dan tanah longsor.
  6. Menjadi media untuk menghasilkan kompos


"saya memiliki masalah pada hari ini karena saya adalah bagian dari volunteer jakarta marathon yang harus bekerja di jcc pd pukul 13.00 dan harus sudah sampai pada pukul 11.30 sedangkan kami sendiri baru sampai di lokasi kurang lebih pada pukul sepuluh, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke lokasi biopori untuk memperkenalkan diri dan kembali sendiri berpisah dengan teman-teman saya dengan menggunakan kereta ke jcc pada pukul 11.00 dan meminta izin dengan koor saya"  -Asyifa Kusuma Triandini


Bukti Kerja :







Kesan - Kesan :



" Kesan-kesan saya dalam melaksanakan tugas praktek lapangan ini adalah sangat senang, karena banyak perlajaran dan nilai-nilai yang dapat saya ambil. Dimulai dari nilai kemanusiaan, nilai sosial, nilai agama dan lain-lain. Disini pun saya juga belajar untuk on time serta selayaknya mahasiswa yang wajib membuat laporan, saya juga merasa memiliki tanggung jawab yang cukup berat, karena saya dan teman-teman saya bekerja demi kesejahteraan rakyat langsung, yaitu kami  harus menjaga kepercayaan masyarakat kepada kami, serta menjaga nama baik kampus kami. Saya pun terkesan dengan semangat teman-teman saya yaitu 1 berhasil semua berhasil 1 gagal semua gagal. "

Jumat, 16 Januari 2015

DAY 4 ( 27 Oktober 2014)


       Pada hari Senin ini kami kembali datang untuk melanjutkan 3 lubang yang belum kami masukkan pipa. Disini kami kembali datang karena pada hari sebelumnya, yaitu sabtu kami sudah terlanjur melubangin 3 lubang selanjutnya, atau kami telah membuat 7 lubang. Karena sikon tidak memungkinkan untuk menyelesaikan, kami pun hanya bisa melubanginya saja. Kami pergi ke lokasi di pagi hari, sementara Livia menyusul di siang hari karena memiliki jam kuliah pagi. Alasan kami untuk memasang lubang secara sekaligus dalam beberapa hari adalah karena kami merasa terlambat, dan takut tidak memiliki waktu untuk survey dan meneliti proses biopori setelah kami tanam pipa. Untuk membuat 10 lubang, kami mendapatkan 1 lokasi dengan kelima lubang pertama, namun hanya dibedakan tempatnya saja. Lima lubang pertama diletakkan di depan taman dan 5 lubang terakhir diletakkan di belakang taman. 

       Kami pun kembali mendapat masalah karena lupa lupa untuk membawa kamera guna mendokumentasikan kegiatan kami, akhirnya kami hanya memakai fasilitas handphone oleh sie dokumenter kami.
 




Lubang ke 7


Proses pelubangan lubang ke 7

Proses bor lubang ke 7

Lubang ke 7






"saat kami ingin menggali tanah untuk lubang ke sembilan, kami mendapat masalah yang cukup besar, panjang, dan rumit. Yaitu menemukan seorang mayat bayi yg terkubur, kami pun kaget dan panik, sampai akhirnya kembali mendatangi penjaga taman kampung dan pak Yusuf. setelah berbincang lama, kami pun memutuskan untuk membuat satu lubang lagi di taman depan terakhir setelah meletakkan pipa2 di belakang taman." -Dynda Rizky

kami menyelesaikan 10 lubang kira-kira pada pukul tiga sore. Setelah menyelesaikan semua lubang, tak lupa kami pun mencatat peletakan-peletakan pipa dan semua data yang perlu kami catat. Tidak lupa pada penyelesaian 7 lubang di hari lalu pun kami tetap mencatat data-data yang kami perlukan.





DAY 3 ( 25 Oktober 2014)

       Setelah menentukan titik-titik lubang dan meletakkan 5 pipa, kami mulai dengan lubang pertama. Awalnya hanya kami yang melubangi tanah, tetapi beberapa lama kemudian kami mendapatkan partisipasi dari warga juga untuk lubang beberapa lubang.

Lubang Pertama

Proses Menggali lubang pertama

Proses menggali lubang pertama



  "sebelumnya kami ingin melubangi kedalaman tanah sedalam 2 meter, namun tanah tidak bisa digali sampai 2 meter, kami pun cukup kebingungan dengan masalah ini, apakah pipanya dibiarkan menonjol keatas tanah dengan resiko berbagai hal atau dipotong. Akhirnya kita sepakat sepakat untuk memotong pipa, dengan menggunakkan gergaji warga." -Marlyani



Kami menggunakan 1 lokasi untuk 10 buah pipa



"kami memiliki kendala karena anggota kami wanita semua, sampai akhirnya kami mendapatkan bantuan dari partisipasi warga." -Kezia


Sambil menunggu teman-teman yang sedang melubangi tanah dengan warga, sebagian yang lain pun membantu memasukan serabut-serabut ke dalam 10 pipa.













DAY 3 (25 Oktober 2014)



   Hari ini kita mulai mengerjakan beberapa lubang, kami datang dipagi hari sekitar pukul 08.00 hingga kami baru selesai sekitar bukul setengah 5 sore. Kami berasil memasang 5 lubang. Kami pun berdiskusi dahulu dengan Pak Yusuf sebelum memasang lubang, agar sepakat dimana titik2 lubang yang akan kami letakan.


saat berkoordinasi dengan Pak Yusuf

saat berkoordinasi dengan Pak Yusuf

Saat menentukan titik-titik  lubang

saat sepakat dengan peletakan lubang


     
"kami mendapatkan masalah karena teringat kegunaan dari biopori, yaitu kami tidak tahu daerah spot yang benar-benar banjir di titik mana. Dan akhirnya kami pun rehat sejenak dan bertanya pada Pak Yusuf dan Penjaga taman kampung derta Pak rw untuk mencari tahu dimana biasa air tergenang, yg maksudnya agar lubang lebih efektif dan terasa manfaatnya." -Shara Nathania Iskandar



Setelah mendapatkan persetujuan dan mengetahui letak-letak biasa air tergenang, kami memulai meletakkan pipa-pipa untuk titik-titik lubang yg akan digali, kami pun langsung memulai pekerjaan.





       sementara kami meletakkan lubang, sebagian teman-teman kami menyiapkan peralatan dan mencari sampah organik, dan ternyata kami memiliki masalah untuk sampah organik.



       "Awalnya kami memakai daun-daun kering di sekitar kampung dan lubang, namun setelah dipertimbangan  sepertinya kurang efektif saat berada di dalam lubang, karena mudah hancur dan menjadi bagian dari tanah, akhirnya kami ganti dengan memakai serabut yang kami beli tidak jauh dari lokasi, karena dapat awet dalam jangka panjang." -Fika Firanty


Jumat, 28 November 2014

DAY 2 (23 Oktober 2014)



     Pada hari Kamis 23 oktober kami kembali berkumpul di binus pada pukul 08.00 untuk kembali datang ke lokasi untuk meminta izin kepada humas setempat. kami berkumpul di binus menunggu kantor TFI open untuk meminta cap persetujuan dr TFI. Agar tidak membuang-buang waktu, sebagian dari kami berangkat terlebih dahulu ke lokasi untuk menemui ibu Sutiaeti, bermaksud berkoordinasi untuk bertemu dengan humas tersebut, Pak Yusuf. Tidak lama sebagian kelompok kami berangkat, kami pun juga mendapatkan pengesahan surat permohonan dari TFI, lalu kami pun segera pergi ke lokasi menyusul teman yg lain.




Surat Pengantar TFI


       Akhirnya kami pun bertemu dengan Pak Yusuf dan berbincang tentang tujuan kami, kegunaan untuk masyarakat, dampak negatif dan positif, dan sebagainya. Bersyukur kami akhirnya mendapatkan izin dari Pak Yusuf dan diberikan saran olehnya agar kami bekerja pada hari Minggu, dimana saat para warga sedang bekerja bakti, agar kami bisa mendapatkan partisipasi warga.

"saya memiliki masalah pada hari ini karena saya adalah bagian dari volunteer jakarta marathon yang harus bekerja di jcc pd pukul 13.00 dan harus sudah sampai pada pukul 11.30 sedangkan kami sendiri baru sampai di lokasi kurang lebih pada pukul sepuluh, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke lokasi biopori untuk memperkenalkan diri dan kembali sendiri berpisah dengan teman-teman saya dengan menggunakan kereta ke jcc pada pukul 11.00 dan meminta izin dengan koor saya"  -Asyifa Kusuma Triandini


Rabu, 22 Oktober 2014

DAY 1 (21 Oktober 2014)



  Sebelum kami melakukan project pembuatan lubang resapan air (biopori), kami melakukan survey terlebih dahulu pada hari Selasa, 21 Oktober 2014 pada pukul 07.00. Kami bertemu terlebih dahulu dengan ibu Sutiaeti untuk memperkenalkan diri, berdiskusi, dan meminta izin. Kami pun  mendapatkan izin lisan dari Ibu Sutiaeti dan penjaga tempat untuk kita membuat biopori. 


       Namun kami memiliki masalah, kami harus izin terlebih dahulu dengan Humas kampung dan memberikan surat pengantar kampus, namun kami belum membawa surat pengantar tersebut dan belum meminta pengesahan dari pihak TFI Binus. Akhirnya dengan kesepakatan team, kami memutuskan untuk kembali datang pada hari Kamis, 23 Oktober 2014 dengan membawa surat yang telah disahkan pihak TFI dan bertemu dengan Pak Yusuf sebagai Humas kampung di RT 007. 

       Karena bertepatan dengan jam belajar anak-anak di PAUD AT-TAQWA, untuk mengisi waktu dan sebagai penghormatan team kami dengan membawa nama baik Binus, kami memutuskan untuk ikut membantu pada guru-guru paud untuk turun memberi semangat dan membantu mengajar kepada anak-anak. Kami pun mendapat respon yang positif dari anak-anak dan para guru-guru Paud.

Saat Membantu Mengajar

"Awalnya sih kita saya bener-bener bingung atur jadwal, apalagi saya harus mengatur bagaimana untuk menjalankan tugas biopori ini dengan waktu saya yang full. Akhirnya saya dan team memutuskan untuk membagi menjadi 2 team dan tugas, saya membagi menjadi 3 dan 4 orang secara bergantian untuk ke lokasi datang mengecek, saya berada di team 4 dan Asyifa sebagai wakil saya berada di team 3. Kami pun bertugas untuk datang secara bergantian, tetapi untuk proses pembuatan lubang, kami selalu full team untuk datang dan bekerja."  -(Livia Vania)



PERKENALAN GROUP 2

Hi guys, welcome to our blog.....


       Kami dari kelompok 2 mahasiswa Universitas Bina Nusantara yang memiliki tugas lapangan untuk praktek membuat LUBANG RESAPAN AIR (BIOPORI) di lingkungan masyarakat. Kami terdiri dari 7 orang dengan masing-masing pembagian tugas, yaitu :
  1. Livia Vania (ketua)  -   Peralatan. (Bertugas membeli peralatan dan kebutuhan - kebutuhan praktek).    
  2. Fika Firanty   -   Referensi dan Humas.  (Bertugas mencari refensi pengetahuan tentang biopori dan bersosialisasi kepada pengurus kampung dan warga setempat).    
  3. Shara Nathania Iskandar   -  Referensi Bahan Blog.  (Bertugas mencari referensi ilmu tentang biopori dan properti tambahan untuk blog).                 
  4. Marlyani   -  Bendahara dan Sekertaris.  (Bertugas menyimpan keuangan team dan menulis kegiatan lapangan).                               
  5. Dynda Rizky   -  Penyusun dan Pengisi blog mengenai artikel Lubang Resapan air biopori.  (Bertugas menyusun blog yang dikumpulkan dari sekertaris, referensi dan bahan blog, serta menyatukannya pada blog artikel tentang biopori)
  6. Asyifa Kusuma Triandini (wakil ketua)  -   Penyusun dan pengisi blog laporan hasil praktek biopori.  (Bertugas menyusun blog yang dikumpulkan dari sekertaris dan anggota tentang kejadian pada lapangan, dan menyatukannya dalam satu laporan).     
  7. Kezia   -   Dokumentasi dan humas.  (Bertugas mengumpulkan data-data dan foto-foto kegiatan serta bersosialisasi dengan pengurus dan warga setempat).
6 Team

Sie Dokumentasi 


Lokasi kami membuat biopori :

PAUD AT-TAQWA
Jl. Pekapuran V RT. 007/03 Kel. Tanah Sereal Kec. Tambora


         Tujuan kami membuat lubang resapan biopori ini pertama adalah untuk memenuhi tugas kampus melalui mata kuliah Caracter Building (Pancasila) yang bekerja sama dengan Teach For Indonesia (TFI) untuk membuat lubang biopori di lingkungan masyarakat, dengan tujuan lain yaitu agar menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan dan keahlian di bidang teknologi dan pengetahuan, tetapi juga memiliki kepribadian dan karakter yang baik, peka terhadap masalah social dan cinta akan lingkungan hidup.

         Kami pun berharap agar lubang yang kami buat dapat berguna untuk daerah tersebut dan memiliki banyak manfaat.